Al Quran Berbicara tentang Ruh - DR. Ahzami Samiun Jazuli

Diantara
tema-tema yang diangkat dalam Al Quran, diataranya adalah tentang Ar
Ruh. Kajian tentang Ar Ruh kali ini akan dibagi dalam 2 kajian, yaitu :
- Makna/Maksud kata Ar Ruh dalam Al Quran. Karena
setelah di pelajari dan di renungi, kemudian membuka referensi tentang
kata dalam Al Quran, ternyata kata Ar Ruh mempunyai makna yang banyak
(tidak hanya satu arti). Dengan demikian, maka diharapkan nantinya kita
tidak salah dalam memahami kata Ar Ruh.
- Beberapa pemahaman/persepsi tentang Ar Ruh dalam Al Quran dan Hadist.
* Makna/Maksud kata Ar Ruh dalam Al Quran
Diantaranya makna kata Ar Ruh adalah :
- Nafas. Seseorang yang masih bernafas dan bergerak
maka orang tersebut masih ada ruh-nya. Kata nafas dan ruh dalam bahasa
indonesia diterjemahkan sebagai nyawa, yang artinya bahwa seseorang
masih hidup kalau orang tersebut ada nyawanya. Dan kita tidak mengetahui
seperti apa wujud/bentuk dari nyawa tersebut.
- Jibril. Seperti halnya dalam surat Al-Qadr 1-5, yang artinya “Sesungguhnya
kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu
apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu
bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan
izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh)
kesejahteraan sampai terbit fajar.” Didalam ayat ke-4 yang berbunyi “Tanajjalul malaaaikatu warruuhu fiihaa” dimana kata “warruuhu” diterjemahkan
sebagai Jibril. Bukankah Jibril adalah malaikat namun kenapa dalam ayat
tersebut Jibril disebutkan secara khusus. Dalam ilmu tafsir diterangkan
bahwa menyebut yang khusus setelah yang umum, menunjukkan bahwa yang
khusus tadi mempunyai keistimewaan yang harus diperhatikan. Sehingga
jibril yang berada di tengah-tengah malaikat adalah yang terdepan,
Jibril sebagai pemimpin para malaikat. Didalam surat lain, yaitu surat
ke 26 Ash-Shu’ara ayat 192-195 yang artinya “Dan sesungguhnya Al
Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa
turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu
menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan,
dengan bahasa Arab yang jelas.” Dimana dalam surat tersebut dijelaskan bahwa Malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu Allah swt (Al Quran) disebutkan dengan kata Ar Ruh Al Amin.
- Nabi Isa as. Seperti dalam firman Allah swt yang berbunyi “Wa rohun minhu” yang artinya “Dan ruh darinya (maksud-nya Isa as)”.
Lalu yang menjadi pertanyaan, kenapa nabi Isa as disebut Ruh? Diantara
mukjizat Nabi Isa as selain menyembuhkan orang sakit yaitu Nabi Isa as
mempunyai mukjizat mampu menghidupkan orang yang sudah mati, yang
tentunya atas ijin Allah swt. Maka Nabi Isa as disebut Ruh, karena
seolah-olah Nabi Isa bisa menghadirkan kembali ruh orang yang sudah
meninggal. Pada dasarnya, jika seseorang meninggal dunia maka ruh orang
tersebut pergi dari jasad-nya. Seperti halnya jika seseorang tidur, maka
dalam keadaan tidur itu ruhnya sedang pergi dari jasadnya. Dan ketika
bangun, ruhnya telah kembali ke jasadnya.
- Al Quran. Seperti halnya dalam surat Asy-Syuura (42) ayat 52 “wakadzaalika awhaynaa ilayka ruuhan min amrinaa …” yang artinya secara lengkap 1 ayat “Dan
demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah
Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur’an)
dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan
Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami
kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar
memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” Kenapa Al Quran disebut
sebagai Ruh? Karena Al Quran adalah pedoman kehidupan yang hakiki untuk
umat manusia, terutama di akhirat nanti. Sehingga seseorang yang hidup
bersama Al Quran, membaca, mendengar, merenungi, memahami, manghafalkan
dan mendakwakan Al Quran maka orang tersebut akan mendapatkan kehidupan
yang hakiki. Seperti halnya dalam surat Al Ankabut ayat 64 yang artinya “Dan
tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan
sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka
mengetahui.”
* Beberapa pemahaman/persepsi tentang Ar Ruh dalam Al Quran dan Hadist.
Dalam bab pemahaman
tentang Ruh ini, hanya akan dikhususkan membahas ruh dalam
pengertian-nya sebagai nafas. Karena sebenarnya tubuh kita terdiri dari
jasad dan ruh. Sedangkan pengertian ruh yang lain (seperti halnya
jibril, isa as dan al quran) cukuplah sebagai pelengkap dalam
mengartikan makna kata ruh, sehingga tidak akan diulang pada bab ini.
Pemahaman tentang Ruh diataranya adalah :
1. Ruh adalah urusan Allah (rahasia Allah swt). Sehingga dengan demikian maka kita tidak tahu ruh itu seperti apa. Maka yang tahu tentang hakikat Ruh adalah Allah swt[]
2. Ruh membutuhkan “makanan”.
Manusia terdiri dari jasad dan ruh. Namun kenyataan-nya manusia lebih
memperhatikan kebutuhan jasad-nya daripada kebutuhan ruh-nya. Misal
seseorang sakit gigi, maka diperiksakan-nyalah giginya ke dokter. Sedang
lapar, maka bergegas segera makan. Begitu cepatnya kebutuhan jasad-itu
ditunaikan, namun jika kebutuhan ruhiyah-nya banyak orang yang lamban.
Orang yang ruhiyah-nya kotor, tidak berinteraksi dengan Al Quran, tidak
sholat, tidak ber-dzikir ibarat baju yang awal-nya putih menjadi kusam,
kumal karena tidak pernah ‘dicuci’ beberapa waktu lamanya. Maka jangan
heran jika ada orang yang tega membunuh sekian banyak orang, berzina
untuk memuaskan nafsu setan-nya hal itu karena ruhiyah-nya kotor,
kebutuhan ruh-nya tidak diberi ‘makanan/vitamin’. Jika jasad kita tidak
diberi makan, yang kemudian terjadi adalah kelaparan dan ujung-ujung-nya
orang tersebut meninggal (tidak membahayakan orang lain). Namun jika
ruh-nya yang kotor/kering karena tidak diberi ‘makanan/vitamin’ maka
akan berakibat merusak dirinya maupun orang lain. Oleh karena itu
kebutuhan terhadap ruh kita sama dengan kebutuhan jasad kita (seimbang
antara kebutuhan jasad maupun ruhiyah).
Dalam sebuah Kisah Ashabul Kahfi, terdapat sabda nabi :
“Al Arwahu Junudun Mujannadah Fama Ta’arofa Minha, Talafa Wama Tanakaro Minhakhtalafa…”
(Sesungguhnya)
ruh-ruh itu seperti pasukan yang berbaris (ketika di alam arwah)…jika
dahulu mereka saling mengenal (di alam arwah) maka mereka akan berkasih
sayang(di dunia), dan jika dahulu mereka saling bermusuhan, maka mereka
akan saling berselisih (di dunia).
Ruh yang baik akan dipertemukan dengan
ruh yang baik, bersatulah mereka dijalan Allah swt, bersatu di jalan
dakwah. Sedangkan ruh yang buruk akan sering berbeda/berantem. Dengan
hadist ini kita diberikan kemudahan memahami isra’ nabi Muhammad saw.
Ketika berada di masjidil Aqsa, nabi mengimami shalat jama’ah para nabi
sedangkan makmumnya adalah pada nabi. Bukankah para nabi sudah
meninggal, namun sebenarnya ruh para nabi tersebut masih ada dan
melakukan sholat bersama Nabi Muhammad saw.[]
3. Ruhnya orang yang sahid, akan berkeliling/beterbangan di surga.[]
Mereka menikmati indahnya surga sebelum semua orang kembali ke akhirat.
Hal ini menggambarkan luar biasanya orang yang mati sahid. Bahkan dalam
sebuah hadist diceritakan bahwa ketika seseorang meninggal dalam medan
jihad, maka diampuni semua dosanya kecuali hutang.
Catatan Kaki :
Kata
ruh berasal dari akar kata
r w h. Setidaknya terdapat
10 entri makna berkenaan dengan akar kata tersebut, dan berkorelasi
dengan kata angin sepoi-sepoi, ringan, aktif, dan cepat. Kata
ruh
juga berhubungan dengan kata istirahat, dan bau, demikian pula dengan
aktivitas bernafas. Makna umum yang dapat kita temukan pada kata-kata
tadi adalah hubungan antara
ruh dengan angin atau udara. Dalam
hal ini, makna resmi kata tersebut yang berarti nyawa yang menggerakkan
makhluk hidup, dapat dipahami secara intuitif sebagai udara yang
menggerakkan jasad manusia. Karena udara tidak dapat dilihat, maka
demikian pula
ruh, yang hanya dapat dirasakan keberadaannya yang seperti angin itu.
Sampai disini, kita dapat memahami maksud para penceramah dengan lelucon yang mereka sampaikan itu. Bahwa
ruh
selamanya tidak akan pernah dilihat dan dicerap secara empirik oleh
manusia, dan hanya Tuhanlah yang mampu untuk menjelaskan hakekat dari
ruh. Yang menjadi masalah kemudian, bagaimana menjelaskan hubungan
antara Al-Quran atau Jibril dengan term
ruh. Cara paling efektif
dan tepat untuk mengetahuinya adalah dengan menganalisis penggunaan kata
tersebut dalam Al-Quran. Dengan demikian, kita beralih dari pemahaman
ruh
dalam arti umum sebagaimana yang kita ketemukan dalam kamus, kepada
pemahaman ruh sebagaimana digunakan dalam ayat-ayat Al-Quran yang
kontekstual.
Dari empatbelas ayat yang mengandung kata
ruh, empat diantaranya berkaitan dengan kata
al-quds, suci, dan membentuk sebuah term baru bernama
Ruh al-Quds. Tiga ayat diantaranya, 5:10, 2:253, 2:78, berhubungan dengan ihwal kerasulan Isa yang diperkuat dengan
Ruh al-Quds. Namun pada ayat 4:171, Isa didefinisikan sebagai rasulullah, kalimat Tuhan yang disampaikan kepada Maryam, dan
ruh dariNya. Dengan demikian, selain diperkuat oleh
Ruh al-Quds, ternyata Isa sendiri memiliki
ruh Tuhan. Keberadaan
ruh
Tuhan dalam diri Isa, sangat berkaitan dengan proses kelahirannya yang
supranatural. Pada 19:17 dijelaskan bahwa Tuhan, dalam bentuk plural,
mengirimkan kepada Maryam “ruh kami” yang tampak baginya seperti manusia
sempurna. Dari pertemuan dengan “ruh kami”lah, kemudian Maryam
mengandung Isa. Al-Quran sendiri menjelaskan secara unik kehamilan
Maryam ini dengan menjelaskan bahwa ia adalah perempuan yang menjaga
kemaluannya yang ditiupkan padanya sebagian dari “ruh kami”. Namun dua
ayat yang menerangkan pernyataan unik ini memiliki dua objek yang
berbeda. Yakni pada 66:12 objek peniupan ruh ber-gender maskulin, sedang
pada 21:91, bergender feminin. Perbedaan gender ini dalam hemat saya
merujuk baik kepada Maryam maupun Isa. Dengan kata lain, bukan hanya Isa
saja yang mendapatkan “ruh kami”, tapi juga Maryam.
Ternyata, keberadaan
ruh Tuhan dalam diri manusia bukanlah
prerogatif Isa dan Maryam semata. Pada 32:9, 15:29, dan 38:72, juga
diterangkan bahwa manusia pertama telah diisi oleh
ruhNya. Dalam konteks ini, penyampaian
ruh
Tuhan kepada diri Adamlah yang membuat para malaikat sujud kepadanya.
Sujudnya para malaikat kepada Adam, sangat berkaitan dengan ihwal
pengajaran nama-nama yang disampaikan Tuhan kepadanya dalam 2:31. Pada
ayat tersebut diterangkan bahwa Adam mampu dengan gemilang mengungguli
para malaikat, karena mampu memberitakan nama-nama yang telah Tuhan
ajarkan kepadanya. Keterangan yang terdapat pada ayat tersebut,
memberikan petunjuk awal kepada kita, jika kata
ruh ternyata berkaitan pula dengan ajaran-ajaran Tuhan.
Penyamaan
ruh Tuhan, dengan ajaran-ajaran Tuhan diperkuat oleh
perkataan Ya’qub kepada putra-putranya dalam 12:87 untuk tidak berputus
asa dalam mencari Yusuf yang hilang. Pada ayat tersebut, Ya’qub
mengatakan: “janganlah kalian berputus asa dari
ruh Allah. Sungguh hanya kaum kafirlah yang putus asa dari
ruh
Allah”. Perkataan Ya’qub ini kemudian diperkuat pula oleh 58:22 yang
menjelaskan bahwa orang-orang beriman tidak akan berkasih sayang kepada
orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, meskipun mereka adalah
sanak saudara mereka. Orang-orang beriman ini, menurut Allah, adalah
mereka yang telah tercatat dalam
qalb mereka iman, dan diperkuat dengan
ruh dariNya. Tentu saja,
ruh
Tuhan, melebihi ajaran-ajaran Tuhan semata. Saya memberikan hipotesis,
bahwa yang dimaksud oleh term tersebut adalah kemampuan untuk
mengaplikasikan ajaran-ajaran Tuhan dalam tataran praktis. Yakni tatkala
ajaran-ajaran tersebut telah mendarah daging dalam perilaku keseharian
seseorang, maka yang bersangkutan tidak ubahnya mereka yang telah
mendapat
ruh Tuhan. Atau dalam bahasa yang lebih kasar, dirinya telah terasuki oleh segenap semangat moral dan tuntunan ilahiyah.
Resapan “semangat ketuhanan” dalam diri seseorang ini jelas bukan sebuah
peristiwa yang subjektif. Dalam 16:102 diterangkan bahwa keteraturan
susunan ayat-ayat Al-Quran dikarenakan ia dibawa oleh
ruh al-Quds
dari Tuhan kepada Nabi SAW. Disini kita menemukan bahwa tekstualitas
Al-Quran berada di luar subjektivitas Muhammad SAW sebagai rasul yang
menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan. Pada seri ayat yang menerangkan tata
laksana turunnya wahyu pada 42:51-2, dijelaskan bahwa wahyu itu sendiri
adalah
ruh yang menjadi cahaya bagi orang-orang yang dikehendaki
oleh Tuhan. Dari pemaparan tersebut, kita sampai pada kesimpulan bahwa,
kata ruh, dalam Al-Quran tidak dapat disamakan dengan kata roh dalam
bahasa Indonesia. Ia bukanlah roh dalam arti nyawa sebagaimana dimaksud
oleh para penceramah, akan tetapi suatu “semangat ilahiah” yang merasuki
setiap perilaku seseorang. Meskipun seseorang dapat terasuki sepenuh
hati oleh ruh Tuhan, akan tetapi apa yang ia perbuat tidaklah bersifat
semena-mena dan subjektif, melainkan mengikuti kaedah-kaedah yang telah
ditentukan oleh Tuhan. Meski demikian, penyampaian
ruh Tuhan atas
diri seseorang sepenuhnya bersifat subjektif bagi Tuhan. Dengan kata
lain, hanya Tuhanlah yang berhak memberikan hadiah tersebut kepada
seseorang.
Dari definisi tentang kata
ruh dalam arti umum sebagaimana digunakan dalam Al-Quran, sekarang kita membahas mengenai kata
al-ruh dalam arti khusus. Sekali lagi, kita menemukan keunikan dalam Al-Quran. Jumlah ayat yang memuat kata
al-ruh adalah setengah dari jumlah ayat yang memuat kata
ruh.
Itu berarti sama dengan jumlah ayat yang mengatributkan kata ruh kepada
Isa dan Maryam, yakni tujuh ayat. Dari ketujuh ayat ini, tiga
diantaranya disandingkan dengan malaikat. Pada 78:38, diterangkan bahwa
pada Hari Kiamat nanti,
al-Ruh dan malaikat akan bangun dalam
satu shaf untuk berbicara atas seizin Al-Rahman. Di ayat berikutnya,
70:4 diterangkan bahwa para malaikat dan
al-Ruh naik ke
tempat-tempat tertinggi milik Tuhan, yang teramat jauh, dimana waktu
sehari dalam kenaikan mereka setara dengan waktu lima puluh ribu tahun
menurut ukuran manusia. Adapun pada ayat ketiga, 16:2, dijelaskan bahwa
malaikat diturunkan dengan
al-Ruh.
Pemaparan kata
al-ruh dan hubungannya dengan malaikat di ketiga ayat tersebut, tentu memunculkan banyak pertanyaan. Apakah
al-ruh
itu individu, entah sejenis malaikat atau makhluk yang jauh lebih
tinggi derajatnya, ataukah ia sebuah objek yang tidak hidup, macam
wahyu? Kesulitan ini berkaitan dengan struktur kalimat pada ayat dimana
kata
al-Ruh digunakan. Kunci dari jawaban ini, menurut saya
terletak pada bagaimana kita memahami ayat 26:193. Disana dijelaskan
bahwa Al-Quran
nazala bihi al-Ruh al-Amin. Term ini bagi saya memiliki dua makna.
Pertama, ia dapat diartikan bahwa Al-Quran itu dibawa oleh
al-Ruh al-Amin atau,
al-Ruh al-Amin itulah yang membawa Al-Quran dan menyampaikannya kepada Nabi SAW. Dengan kata lain,
al-Ruh al-Amin itu subjek, sedangkan Al-Quran itu objek.
Kedua, term tadi juga dapat diartikan sebagai
nazala bi al-Quran, al-Ruh al-Amin, atau Al-Quran diturunkan kepada Muhammad SAW bersama
al-Ruh al-Amin. Pada makna kedua ini, baik Al-Quran maupun al-Ruh al-Amin, sama-sama objek yang diturunkan Tuhan kepada Nabi SAW.
Bagi saya, kedua penafsiran ini memiliki beberapa konsekuensi logis,
yakni jika ia subjek tentu kita dapat memahami ayat 78:38 dan 70:4
dengan jelas. Yakni
al-Ruh yang dapat berkata-kata di akhirat kelak dan yang naik ke tempat-tempat tertinggi,
ma’arij, serta yang turun bersama malaikat pada malam
qadr. Meskipun demikian, koherensi makna
al-Ruh dengan
ruh
sebagaimana saya jelaskan sebelumnya akan sedikit berbeda. Dalam hal
ini, “semangat ilahiyah” akan mengalami distorsi makna, jika kita
menyamakannya sebagai subjek. Dimana, kondisi orang yang terasuki ruh
Tuhan mengalami kehilangan kesadaran akan identitas, karena tergantikan
oleh subjek lain yang merasukinya. Tentu saja penafsiran ini sangat
bermasalah, karena meskipun seseorang terasuki oleh
ruh Tuhan,
tapi ia tidaklah kehilangan kesadaran akan identitas dirinya. Yang saya
maksud adalah, kita dapat membedakan dengan jelas antara orang yang
“kerasukan” sesuatu dan melakukan sebuah perbuatan tanpa sadar, dengan
orang yang melakukan sebuah perbuatan dengan sadar, tapi terinspirasi
oleh sebuah semangat yang merasuk kedalam dirinya. Dalam arti kedua
inilah mestinya makna
ruh disematkan.
Lalu bagaimana mengartikan
al-Ruh sebagai sebuah objek? Menurut
saya, ayat 40:15 memberikan petunjuk bagi masalah ini. Yakni, hanya
Tuhanlah yang mengangkat derajat sesuatu/ seseorang, yang memiliki
‘Arsy, dan menyampaikan
al-Ruh dengan perintahNya kepada hamba-hambaNya yang Dia kehendaki.
Al-Ruh dengan demikian memiliki makna yang sama dengan
ruh. Model penafsiran ini tentu sangat berguna dalam menafsirkan fenomena
laylatul qadr pada surat 97. Dalam ayat tersebut dikemukakan definisi dari malam
qadr, yakni malam yang lebih baik dari seribu bulan, dimana pada malam tersebut malaikat dan
al-Ruh
turun atas seizin Tuhan, untuk mengatur setiap urusan. Akan pengertian
ini, sekali lagi saya teringat penafsiran Quraish Shihab tentang makna
surat tersebut.
Kalau saya tidak salah, beliau menjelaskan tentang arti
laylatul qadr sebagai malam saat nilai ibadah yang kita lakukan setara dengan ibadah yang dikerjakan selama seribu bulan. Malam
qadr dengan demikian ibarat
premier time
yang berlangsung singkat, dari malam hingga terbit fajar. Meski
singkat, akan tetapi setiap ibadah yang dilakukan pada malam tersebut
memiliki nilai balasan yang teramat tinggi. Pendapat ini adalah pendapat
umum yang tersebar luas di tengah-tengah masyarakat kita. Lalu apa
penafsiran berikutnya? Quraish Shihab mengartikan term terbit matahari,
mathla’ al-fajr, di ayat 5 surat tersebut sebagai akhir hayat manusia. Maksudnya, mereka yang dikaruniai Tuhan untuk bertemu
laylatul qadr
akan menjadi orang yang selalu berbuat baik sepanjang hidupnya, dan
perilakunya itu tidaklah terbatas pada satu malam saja. Di sini Quraish
Shihab berargumen bahwa pengaruh malam
qadr tidaklah berlangsung
singkat, melainkan membekas dalam diri seseorang, dimana orang yang
bersangkutan akan selalu mendapatkan bimbingan dari Tuhan hingga ia
meninggal.
Apabila kita menerima penafsiran kedua ini, maka ide bahwa
al-Ruh sebagai sebuah objek yang memiliki arti yang sama dengan
ruh,
dapat kita kita pahami dengan logis. Ia adalah keadaan sadar diri dalam
perlindungan dan petunjuk Tuhan. Kesadaran akan ajaran-ajaranNya,
sebagaimana dahulu para nabi dan rasul telah “terasuki”. Untungnya, rasa
sadar ini bukan hanya milik mereka. Kita para manusia biasa juga bisa
mendapatkan
al-Ruh. Saat dimana Tuhan menganugerahkan
al-Ruh pada diri seseorang adalah pada malam
qadr. Pada malam inilah atas seizin Tuhan,
al-Ruh diberikan kepada hamba-hamba pilihanNya. Sekali lagi, pengaruh
al-Ruh bersifat permanen. Ia akan mempengaruhi kehidupan orang terpilih tersebut sepanjang hayatnya hingga ia meninggal dunia.
Penafsiran bahwa
al-Ruh memiliki arti yang sama dengan
ruh,
dalam banyak hal menjelaskan pula tentang hakekat agama dan juga
Al-Quran. Pertanyaan yang selalu menggugah ilmuwan, kenapa manusia
beragama, darimana asal muasal Al-Quran, selanjutnya berkaitan dengan
ide bagaimana Tuhan menyampaikan
al-Ruh secara subjektif. Bahwa
keberagamaan dan kemudian Al-Quran sendiri adalah anugerah yang
diberikan Tuhan kepada manusia, dan pertanyaan mengenai asal-usul
keduanya akan tetap menjadi rahasia Tuhan untuk selama-lamanya. Manusia
tidak akan pernah dapat mengerti hakekat keberagamaan dan Al-Quran. Pada
titik inilah mestinya ayat 17:85 dipahami. “
yas’alunaka a’n al-Ruh, qul al-Ruh min amri Rabbi, wa ma utitum min al-i’lm illa qalilan”.
Mereka bertanya padamu tentang wahyu dan agama, juga tentang
keberagamaan itu sendiri. Katakan, bahwa hal tersebut adalah urusan
Tuhanku, dan kalian tidaklah memiliki pengetahuan atasnya kecuali
sedikit.
Wa Allah A’lam bi al-shawwab.